Pembagian deviden oleh Suatu Perusahaan



Pengumuman pembagian deviden oleh suatu perusahaan, merupakan signal bagi pemegang saham. Pada dasarnya antara manajer dengan pemegang saham memiliki informasi yang berbeda, dimana manajer lebih memiliki informasi yang
lengkap daripada pemegang saham. Pemegang saham akan menginterprestasikan peningkatan pembayaran deviden oleh perusahaan, sebagai signal bahwa pihak manajemen memiliki prediksi arus kas yang tinggi dimasa yang akan datang. Sebaliknya, penurunan pembayaran deviden diinterprestasikan sebagai antisipasi manajer terhadap terbatasnya arus kas dimasa yang akan datang. Perusahaan meningkatkan pembayaran deviden hanya bila manajer yakin bahwa pembayaran deviden yang tinggi tersebut  mampu dipertahankan dimasa yang akan datang.
            Kebijakan pembagian dividen merupakan suatu masalah yang sering dihadapi oleh perusahaan, manajemen sering mengalami kesulitan untuk memutuskan apakah akan membagi dividennya atau akan menahan laba untuk diinvestasikan kembali kepada proyek-proyek yang menguntungkan. Kebijakan dividen merupakan salah satu bagian mendasar yang juga sangat penting untuk diperhatikan, karena dividen memiliki daya tarik tersendiri bagi investor. Pihak manajemen perusahaan dituntut untuk bisa menentukan kebijakan dividen yang optimal, sehingga terciptanya keseimbangan diantara dividen yang dibagikan saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang.

Beberapa Teori Kebijakan Dividen

a.         “Dividen Tidak Relevan (dividend irrelevance theory)” 
  Dari MM

·           Menurut Modigliani & Miller (MM), nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya dividen payout ratio (DPR), tapi ditentukan oleh laba bersih sebelum bunga dan pajak (EBIT) dan tingkat risiko perusahaan.

·           Pernyataan MM ini didasarkan pada beberapa asumsi penting yang “lemah” seperti:
a.         Pasar modal sempurna dimana semua investor adalah rasional 
b.        Tidak  ada   biaya emisi  saham   baru  jika  perusahaan menerbitkan saham baru
c.         Tidak ada pajak
d.        Kebijakan investasi perusahaan tidak berubah
b.        Teori “The Bird in the Hand
·           Gordon dan Litner menyatakan bahwa biaya modal (KS) perusahaan akan naik jika dividen payout ratio (DPR) rendah karena para investor lebih suka menerima dividen daripada capital gains. Menurut mereka investor memandang dividend yield (D1/P0) lebih pasti daripada capital gains yield (g).  Dilihat dari sisi investor, KS adalah tingkat keuntungan yang disyaratkan investor pada saham.  KS adalah keuntungan dari dividend yield ditambah keuntungan dari capital gains yield).

             

= Dividend yield + Capital gains yield
·           Mogdiliani dan Miller menganggap bahwa argumen Gordon dan Litner merupakan suatu kesalahan (MM menggunakan istilah “The Bird in the hand Fallacy”). Menurut MM, pada akhirnya investor akan kembali mengivestasikan dividen yang diterima pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki risiko yang hampir sama.
c.         Teori Perbedaan Pajak
·           Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy, yang menyatakan bahwa karena adanyak pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gains, para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak.
·           Jika manajemen percaya bahwa teori “dividen tidak relevan” dari MM benar, maka perusahaan tidak perlu memperdulikan berapa besar dividen yang harus dibagi.  Jika mereka menganut teori “the Bird in the Hand” mereka harus membagi seluruh earning after tax (EAT) dalam bentuk dividen. Bila manajemen cenderung mempercayai teori perbedaan pajak (tax diffential theory) mereka harus menahan seluruh EAT atau DPR = 0.
d.        Teori Signaling Hypothesis
·           Ada bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, sering diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya penurunan dividen umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai dividen daripada capital gains.
·           Teori Signaling Hypothesis ini juga sulit dibuktikan secara empiris. Adalah nyata bahwa perubahan dividen mengandung informasi.  Tapi sulit dibuktikan apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya kenaikan dan penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek “sinyal” atau disebabkan efek “sinyal” dan preferensi terhadap dividen
Faktor–faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen


§  Posisi solvabilitas perusahaan

§  Posisi likuiditas perusahaan

§  Kebutuhan untuk melunasi hutang
§  Rencana perluasan
§  Kesempatan investasi
§  Stabilitas pendapatan
§  Pengawasan terhadap perusahaan









 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar